JatimJawa TimurSosial dan Kebudayaan

Bersih Desa Dadapan Kendal Digelar Meriah, Wayang Kulit “Semar Bangun Deso” Jadi Puncak Tasyakuran Warga

7
×

Bersih Desa Dadapan Kendal Digelar Meriah, Wayang Kulit “Semar Bangun Deso” Jadi Puncak Tasyakuran Warga

Sebarkan artikel ini

 

NGAWI .Kujangpost.com-Malam di Desa Dadapan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Rabu (2/9/2026), terasa berbeda. Di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak mengikuti zaman, tradisi leluhur justru kembali menjadi ruang berkumpul dan bersyukur.

Ratusan warga memadati lokasi digelarnya Bersih Desa Dadapan, sebuah tradisi tahunan yang bukan sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi sekaligus merawat warisan budaya Jawa.

Puncak kegiatan berlangsung semarak melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan menghadirkan dalang Radhityo Carito. Lakon “Semar Bangun Deso” dipilih untuk mengiringi malam tasyakuran masyarakat.

Alunan gamelan yang mengalun berpadu dengan kepiawaian sang dalang membuat suasana semakin hidup. Warga dari berbagai kalangan tampak larut mengikuti jalannya pertunjukan hingga malam berganti dini hari.

Tak hanya menjadi tontonan, lakon yang dibawakan juga menyimpan pesan dan harapan masyarakat Dadapan. Sosok Semar dalam kisah pewayangan menjadi simbol kebijaksanaan dan pengayoman, sejalan dengan doa warga agar kehidupan desa ke depan semakin baik.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Dadapan Andiek Bangga S., Camat Kendal Sofwan Ahmadi, S.Sos., M.M., jajaran Polsek Kendal, Babinsa, Bhabinkamtibmas, seluruh perangkat desa, serta tokoh masyarakat setempat.

Sejak sore hari, geliat persiapan sudah terasa. Warga berdatangan membawa berbagai sesaji yang menjadi bagian dari tradisi Bersih Desa. Gotong royong pun menjadi pemandangan yang menonjol. Pemuda, ibu-ibu PKK, perangkat desa, hingga tokoh masyarakat bahu-membahu memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.

Bagi masyarakat Dadapan, Bersih Desa merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi, kesehatan, keselamatan, serta kehidupan yang telah dilalui selama setahun terakhir.

Kepala Desa Dadapan, Andiek Bangga S., mengatakan antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan warga.

“Bersih Desa ini bukan hanya tradisi, tapi juga identitas kita. Dengan adanya wayangan dari Ki Dalang Radhityo Carito, tujuan kami generasi muda semakin cinta dan tidak melupakan budaya sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, pagelaran wayang kulit tahun ini sekaligus menjadi bagian dari tasyakuran dengan membawa pesan Semar Bangun Deso. Harapannya, kehidupan masyarakat Dadapan ke depan semakin sejahtera.

“Semoga ke depan ekonomi warga lebih baik dari tahun kemarin dan hasil panen juga semakin membaik,” imbuhnya.

Waktu terus berjalan. Namun, semangat warga untuk menyaksikan pertunjukan tak surut. Hingga dini hari, penonton masih setia berada di lokasi.

Sesekali gelak tawa pecah ketika tokoh Punakawan muncul dengan tingkah jenaka. Sorak dan tepuk tangan pun menggema, mencairkan suasana malam yang semakin larut.

Di balik kemeriahan pagelaran wayang kulit, terselip pesan sederhana: pembangunan desa tidak hanya membutuhkan kemajuan secara fisik dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang tetap mengenal akar budayanya.

Bersih Desa Dadapan 2026 akhirnya bukan sekadar perhelatan tahunan. Ia menjadi pertemuan antara rasa syukur, doa, kebersamaan, dan budaya—sebuah tradisi yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Masyarakat berharap semangat tersebut dapat terus dipertahankan, sehingga Bersih Desa Dadapan bukan hanya semakin meriah pada tahun-tahun mendatang, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya warisan leluhur.(Arni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *