PekanbaruPeristiwa

Insiden Berdarah di Kampus UIN SUSKA Riau, Sistem Keamanan Jadi Sorotan

4
×

Insiden Berdarah di Kampus UIN SUSKA Riau, Sistem Keamanan Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

PEKANBARU,  KUJANGPOST.com — Ketenangan lingkungan kampus mendadak pecah pagi itu. Jeritan minta tolong terdengar dari sebuah ruang sidang, disusul kepanikan mahasiswa yang berhamburan keluar koridor.
Peristiwa berdarah tersebut diduga melibatkan seorang mahasiswa berinisial RM alias Rayhan Muzaffar, mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum angkatan 2022 asal Muara Uwai, Bangkinang. Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat insiden terjadi ia berada di ruangan yang sama dan disebut sedang menunggu dosen penguji.

Awalnya tak ada yang mencurigakan. Aktivitas akademik berjalan seperti biasa. Namun suasana berubah drastis ketika korban terlihat keluar ruangan dalam kondisi terluka.
“Kami dengar teriakan. Waktu mau lihat, ternyata dia sudah pegang kapak. Kami langsung mundur karena takut,” ujar seorang saksi yang masih syok.

Diduga, penyerangan bermula di dalam ruang sidang. Korban sempat berusaha menyelamatkan diri menuju koridor. Nahas, pelaku mengejar, menarik korban hingga terjatuh, lalu kembali melayangkan serangan. Korban akhirnya terduduk lemah dengan darah menggenang di lantai.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka bacok di bagian tangan serta kening. Pemandangan di depan ruang belajar itu sontak memicu kepanikan. Sejumlah mahasiswa dan staf memilih menjauh untuk menyelamatkan diri.
Informasi awal menyebutkan keduanya pernah menjalin hubungan pribadi. Dugaan sementara, aksi tersebut dipicu persoalan emosional pasca berakhirnya hubungan mereka. Meski begitu, aparat kepolisian masih mendalami motif sebenarnya.

Tak lama setelah kejadian, korban segera dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis. Sementara itu, pelaku berhasil diamankan dan kini berada dalam penanganan pihak berwajib.

Insiden ini juga terekam dalam sejumlah video yang diambil mahasiswa dan civitas akademika. Rekaman tersebut beredar luas di media sosial dan memicu reaksi keras dari publik.

Peristiwa kekerasan di ruang akademik ini menjadi perhatian serius, khususnya bagi dunia pendidikan di Riau. Keamanan lingkungan kampus kini dipertanyakan.
“Kampus harus mengevaluasi sistem pengawasan dan akses masuk. Ini tempat belajar, bukan tempat orang membawa senjata,” kata seorang mahasiswa yang enggan disebutkan namanya.

Hingga berita ini disusun, identitas lengkap korban belum diumumkan secara resmi. Aktivitas kampus telah kembali berjalan, namun suasana psikologis civitas akademika disebut masih diliputi rasa cemas dan trauma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *