EkonomiJatimJawa TimurMagetan

Dari Balai Desa Driyorejo, Harapan Itu Dinyalakan: Saat Ibu-Ibu, Warga, dan Gotong Royong Menjadi Kekuatan Desa

5
×

Dari Balai Desa Driyorejo, Harapan Itu Dinyalakan: Saat Ibu-Ibu, Warga, dan Gotong Royong Menjadi Kekuatan Desa

Sebarkan artikel ini

 

Magetan.Kujangpost.com-Tak ada gemerlap panggung mewah. Tak ada hingar-bingar pesta besar. Namun pagi itu, di Balai Desa Driyorejo Rabu 1 April 2026 ada sesuatu yang terasa lebih hangat dari sekadar sebuah peringatan.

Senyum para ibu, tawa anak-anak, dan langkah warga yang datang dari berbagai sudut desa menyatu dalam satu harapan: melihat Desa Driyorejo tumbuh menjadi desa yang lebih baik.

Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) di Desa Driyorejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, berlangsung sederhana, tetapi sarat makna. Di balik deretan kursi, hiasan balai desa, dan ramainya stan UMKM, tersimpan semangat yang selama ini menjadi denyut kehidupan desa: kebersamaan.

Satu per satu kader PKK datang dengan wajah penuh semangat. Mereka bukan sekadar hadir memenuhi undangan. Mereka datang membawa pengabdian yang selama ini tak banyak terlihat. Dari tangan merekalah posyandu berjalan, keluarga dibina, anak-anak diperhatikan, dan warga saling dikuatkan.

Di tengah acara, Kepala Desa Driyorejo, Yanto Prasetyo, ST, berdiri dan menatap warganya. Bukan sekadar menyampaikan sambutan, tetapi mengajak semua yang hadir untuk mengingat bahwa desa tidak akan pernah maju jika berjalan sendiri-sendiri.

“Melalui momentum HKG ini, kita perkuat sinergi untuk terus bergerak bersama membangun Desa Driyorejo menjadi desa yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi warga, kata-kata itu seperti cermin dari apa yang selama ini mereka jalani. Bahwa membangun desa bukan hanya tugas kepala desa atau pemerintah. Membangun desa adalah tentang ibu-ibu yang tak lelah bergerak, warga yang rela bergotong royong, dan masyarakat yang tetap percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil.

Di sudut balai desa, beberapa ibu tampak menjaga stan UMKM dengan mata berbinar. Ada yang menjajakan makanan olahan, kerajinan tangan, hingga hasil usaha rumahan. Mungkin nilainya tak seberapa, tetapi di balik produk itu ada perjuangan panjang—tentang seorang ibu yang ingin membantu ekonomi keluarga, tentang harapan agar anak-anaknya bisa sekolah lebih tinggi, dan tentang mimpi kecil yang perlahan ingin diwujudkan.

Sementara itu, lomba keterampilan dan penyuluhan kesehatan tak hanya menjadi hiburan. Kegiatan itu menjadi ruang bagi warga untuk saling belajar, saling menguatkan, dan saling percaya bahwa mereka bisa tumbuh bersama.

Jajaran Forkopimca Kecamatan Nguntoronadi yang hadir pun memberikan apresiasi atas semangat warga Desa Driyorejo. Sebab di tengah banyaknya tantangan, desa ini masih menyimpan sesuatu yang kini mulai langka: kepedulian dan kebersamaan.

Hari itu, HKG bukan hanya tentang perayaan. Ia menjadi pengingat bahwa sebuah desa tidak dibangun oleh bangunan megah atau jalan yang lebar semata. Desa dibangun oleh orang-orang yang tak pernah lelah saling menggenggam.

Dan dari Balai Desa Driyorejo, harapan itu kembali dinyalakan. Pelan, sederhana, tetapi cukup kuat untuk menerangi masa depan.(Arni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *