BudayaRiauRokan Hulu

Raja Rambah ke- XI Tegaskan Marwah Adat Mandailing Na Pitu Huta Tetap Lestari di Luhak Rambah

Kujang Post
8
×

Raja Rambah ke- XI Tegaskan Marwah Adat Mandailing Na Pitu Huta Tetap Lestari di Luhak Rambah

Sebarkan artikel ini

Rokan Hulu | KUJANGPOST.com- Nuansa adat, sejarah, dan kebersamaan menyatu dalam pelaksanaan Tradisi Mandai Ulu Taon yang digelar masyarakat Mandailing Na Pitu Huta di Huta Haiti, Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Rabu (20/05/2026). Tradisi turun-temurun yang sarat nilai budaya itu kembali menjadi penanda kuat bahwa warisan leluhur masih hidup dan dijaga dengan penuh kehormatan di bumi Luhak Rambah.

Pelaksanaan Mandai Ulu Taon tahun 2026 dipusatkan di Sopo Godang Huta Haiti yang berada di kawasan Bagas Rarangan Boru Namora Suri Andung Jati, sosok perempuan yang dikenal sebagai perintis tujuh kampung atau Napitu Huta di Luhak Rambah.

Kegiatan adat tersebut berlangsung khidmat dan penuh makna dengan dihadiri langsung Raja Rambah ke XI dr. Tengku Afrizal Dachlan, MM. Gelar Yang Dipertuan Besar bersama Raja Luhak Rokan Yang Dipertuan Sakti XII, Tengku Haji Endrizal, SE, Gelar Sultan Mahkota Alam, Sutan Mahmud, Sutan Silindung dari Tangun, para tokoh adat Napitu Huta,Suku Nan Tujuh,Suku Nan Seratuih, alim ulama, cerdik pandai, serta ratusan masyarakat yang datang dari berbagai wilayah.

Turut hadir sebagai tamu kehormatan, Bupati Rokan Hulu yang diwakili Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Rokan Hulu Yusmar M.Si, Wakil Ketua DPRD Riau Budiman Lubis SH, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Rokan Hulu, serta unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat lainnya.

Dalam sambutannya, Raja Rambah XI dr. Tengku Afrizal Dachlan, M.M., menegaskan bahwa Mandai Ulu Taon bukan sekadar tradisi makan bersama, melainkan simbol persatuan, rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, serta bentuk nyata menjaga marwah adat Mandailing Na Pitu Huta agar tetap lestari sepanjang zaman.

Menurutnya, nilai-nilai adat yang diwariskan para pendahulu harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai identitas budaya masyarakat Luhak Rambah.

“Mandai Ulu Taon bukan hanya sebuah tradisi, tetapi mahakarya warisan leluhur yang sarat makna persaudaraan, persatuan, dan penghormatan terhadap sejarah panjang adat Mandailing Na Pitu Huta. Di dalamnya hidup semangat kebersamaan yang merekatkan masyarakat lintas generasi dalam satu ikatan budaya yang kokoh. Tradisi ini harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan, agar anak cucu di masa depan tidak kehilangan jati diri, tidak melupakan asal-usulnya, serta tetap bangga berdiri di atas akar budaya dan marwah leluhur yang telah diwariskan turun-temurun,” ungkap Tengku Afrizal Dachlan penuh makna

Ia juga menekankan bahwa keberadaan adat dan budaya merupakan pondasi penting dalam menjaga persatuan masyarakat di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.

Sementara itu, Pj Sekda Rokan Hulu Yusmar M.Si menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat adat dan para tokoh budaya dalam melestarikan Tradisi Mandai Ulu Taon sebagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Rokan Hulu.

Menurutnya, tradisi tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi dan menjadi aset budaya daerah yang harus terus dijaga serta diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

Rangkaian kegiatan Mandai Ulu Taon diawali dengan pembacaan sejarah kedatangan Boru Namora Suri Andung Jati di Huta Haiti. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke jejak terakhir Boru Namora Suri Andung Jati sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh perempuan yang berjasa merintis Napitu Huta di Luhak Rambah.

Usai prosesi ziarah, seluruh tokoh adat dan masyarakat mengikuti makan bersama sebagai puncak Tradisi Mandai Ulu Taon. Suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan tampak menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.

Di tengah arus modernisasi, Mandai Ulu Taon tidak hanya menjadi tradisi budaya, tetapi juga simbol kuat bahwa adat, sejarah, dan jati diri masyarakat Mandailing Na Pitu Huta tetap hidup, terjaga, dan bermarwah di bumi Luhak Rambah.

Acara berakhir pada pukul 12.00 WIB dalam suasana penuh kehangatan, kebersamaan, dan khidmat. Kegiatan ini menjadi simbol kuatnya persatuan masyarakat serta wujud nyata pelestarian adat dan budaya Mandailing Na Pitu Huta di Luhak Rambah agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *