KUJANGPOST.com — Gelombang ketakutan menyelimuti Israel ketika rudal balasan dari Iran meluncur menuju wilayahnya. Sirene peringatan meraung keras, memecah langit pagi dan menggema dari satu kota ke kota lain. Suara panjang itu menjadi penanda ancaman nyata di udara. Dalam sekejap, kepanikan merebak. Permintaan evakuasi melonjak, sementara warga berhamburan mencari bunker dan ruang perlindungan.
Sejumlah media, seperti The Jerusalem Post dan The Times of Israel, melaporkan sirene mulai terdengar pada Sabtu (28/2/2026) tak lama setelah pukul 10.00 waktu setempat. Namun dua jam sebelumnya, sekitar pukul 08.10 waktu Tel Aviv, rudal pertama hasil operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel telah lebih dulu menghantam sasaran di Iran. Serangan itu menjadi titik balik, membawa ketegangan yang lama terpendam ke panggung konfrontasi terbuka.
Di Teheran, ledakan keras mengguncang sejumlah titik. Asap pekat membubung tinggi, dengan salah satu lokasi terdampak dilaporkan berada di sekitar Universitas Teheran—kawasan pendidikan yang mendadak berubah menjadi simbol eskalasi konflik. Serangan tersebut memperjelas bahwa rivalitas kedua negara kini tak lagi sekadar perang bayangan.
Secara geografis, Iran dan Israel memang tidak berbatasan langsung. Keduanya terpisah sekitar 990 kilometer, dengan Irak, Suriah, dan Yordania berada di antaranya. Di sisi lain, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi yang juga menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat menambah kompleksitas peta kawasan. Timur Tengah kembali menjadi simpul kepentingan strategis yang saling berkelindan.
Tak lama berselang, Iran mengumumkan dimulainya gelombang pertama peluncuran rudal dan drone tempur. Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan aksi tersebut sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai agresi musuh. Dengan arsenal rudal jarak jauh yang dimiliki, Iran diyakini mampu menjangkau wilayah Israel hanya dalam hitungan menit.
Di bagian utara Israel, dentuman terdengar ketika sistem pertahanan udara diaktifkan. Al Jazeera melaporkan ledakan berasal dari roket pencegat yang berupaya menghancurkan proyektil Iran sebelum mencapai target. Langit berubah menjadi arena duel teknologi militer, rudal dan sistem pertahanan saling berkejaran dalam lintasan cepat yang sulit ditangkap mata.
Militer Israel, Pasukan Pertahanan Israel, mengonfirmasi bahwa sejumlah rudal sedang mengarah ke wilayahnya. Instruksi darurat dikeluarkan, warga diminta segera masuk ke tempat perlindungan sementara sistem pertahanan udara bekerja maksimal menahan ancaman.
Di ranah digital, situasi tak kalah tegang. Lembaga pemantau lalu lintas internet global, NetBlocks, melaporkan konektivitas di Iran kembali mengalami gangguan besar. Pola ini disebut menyerupai insiden pada Januari 2026 dan Juni 2025, ketika tekanan domestik meningkat tajam.
Konflik yang berkembang ini bukan hanya pertarungan fisik di darat dan udara, tetapi juga merambah ruang siber. Sirene terus meraung, rudal meluncur, jaringan komunikasi melemah. Timur Tengah kembali berada di ambang ketidakpastian, menanti apakah bara ini akan segera dipadamkan atau justru membesar menjadi krisis yang lebih luas.












